Menu Close

JBA Tingkatkan Kualitas dengan Pelatihan Review Naskah Bahasa Inggris

Samarinda – Untuk menjamin kualitas Jurnal Borneo Administrator (JBA), kegiatan Bedah Jurnal di lingkungan Puslatbang KDOD kembali digelar pada hari Kamis, (7/10), dengan mengusung tema “Pelatihan Mereview Naskah Bahasa Inggris”. Prof. Dr. Janianton Damanik, M. Si, Editor in Chief Jurnal JSP (Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) hadir sebagai Narasumber dalam kegiatan ini. Mengawali pembahasan, Janianto mengulik sedikit tentang fenomena problem jurnal di Indonesia, yang dikatakannya agak sedikit terlambat sebagai suatu negara di bidang perjunalan. Kondisi tersebut dianggap menjadi kendala awal dalam berkembangnya sebuah jurnal.
Lebih lanjut, Janianto juga memberikan pengalaman terkait hal mereview naskah. Menurutnya, kegiatan mereview merupakan kegiatan yang fundamental bagi jurnal yang berkualitas. “Kita menghadapi realitas kualitas tulisan yang sangat bermasalah untuk satu tujuan publikasi. Kita tidak menutup mata agar tahu memulai dari mana dan mengawalnya bagaimana. Masih banyak pengalaman menunjukkan bahwa problem mengelola jurnal ada pada review. Ada di satu titik, reviewer kesulitan dan berat hati harus menolak. Dilemanya, jika diterima tulisan akan berbahaya untuk kelangsungan reputasi jurnal. Masih banyak penulis yang belum aware terhadap tujuan dari tulisannya. Harusnya penulis mempunyai kecenderungan, ketika sebuah jurnal misalnya sudah Sinta 2, si penulis sudah mulai berpikir, untuk masuk dia harus mencoba melakukan penyesuaian di dalam tulisannya. Bukan tetap nekat menulisnya walaupun tidak memeuhi persyaratan, dengan berharap pengelola akan memberikan keringanan dan berbelas kasihan untuk menerimanya” jelasnya.
Diterangkan oleh Junianto, bahwa artikel jurnal merupakan karya ilmiah, yang merupakan sebuah pemikiran yang utuh. Oleh karenanya, penulisannya harus disiapkan dengan ide yang matang. “Menulis itu tidak bisa disambi, harus fokus. Tulisannya harus runtut, karena dari tulisan kita akan memberikan pesan dan argumentasi yang logis. Ragam bahasa yang digunakan juga harus spesifik. Diksinya juga harus jelas, misalnya diksi terkait ruang lingkup administrasi negara (LAN). Substansi jurnal juga bukan mengulang dari apa yang sudah ada sebelumnya, sehingga bermanfaat bagi masyarakat. Ketika berbagai hal tersebut bisa terlihat dan terpenuhi, seorang review pasti akan lega perasaannya” imbuhnya lagi.
Untuk melakukan review yang baik, Junianto mengatakan bahwa kita bisa berpatokan kepada terpenuhinya unsur IMRAD (introduction, methode, result, discussion). Di sesi Introduction, salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan melacak yang dilakukan penulis dengan penulis lain. Kita melihat standing potition, apakah tulisan penulis signifikan bagi ilmu pengetahuan. Untuk Methode, pengalaman yang ada saat ini, agak sering dalam praktek, bahasa metodenya, bukan yang dilakukan, tapi yang ada di text book. Seringnya tidak ada argumen yang di sajikan oleh Penulis, misalnya kenapa kualitatif digunakan. Di bagian ini, kita harus cermat pada detail bukan pada panjangnya penyampaian, harus padat dan jelas. Result, bukan sekedar sajian tabel atau sajian kutipan wawancara, tapi yang harus disajikan adalah temuan barunya itu apa, apa bedanya dengan research sebelumya. Mereview harus melihat apa yang ditemukan di sini, temuan itu juga menangkap perbedaannya dengan temuan sebelumnya. Adapun discussion harus terepresentasikan pada kontribusi apa yang akan diberikan oleh temuan. Dari IMRAD bisa menjadi barometer untuk melanjutkan review artikel secara teknis.
Dapat dipertimbangkan juga sebagai bagian dari kegiatan reviewer adalah meminta penulis untuk menyertakan brief biografi, bukan berkaitan dengan jabatan di kantor, tapi bagaimana publikasi yang dilakukan oleh penulis selama ini, ini akan membuat gambaran kepada reviewer terkait penulis.
Ada satu hal yang juga ditekankan oleh Junianto, bahwa jurnal kita tidak muncul dalam satu ruang hampa kekuasaan (bahwa kerja keredaksian tidak semata substansi tapi juga organisasi yang terstruktur). Tidak adanya proudness itu menurutnya berbahaya, sehingga harus ada dukungan dari atasan sebagai bagian dari produksi proses akademis. Kalau hanya hiasan, maka visi membangun jurnal yang bereputasi akan menjadi lemah, karena kebanggaaan untuk mengelola jurnal itu tidak muncul sebagai sebuah motivasi (tw/tw)
Scroll Up