Menu Close

Kelompok Budaya Kerja Kembali di Gelar Puslatbang KDOD

Samarinda – Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang hampir semua lapisan masyarakat menyukainya karena disajikan dengan menggunakan bahasa yang indah dan bersifat imajinatif. Seringkali, isi sebuah puisi menggambarkan perasaan sang penulis yang disampaikan melalui rangkaian kata-kata yang indah. Bukan hanya itu saja, puisi juga dapat dikatakan sebagai salah satu media komunikasi yang sifatnya lebih fleksibel karena dalam pemilihan kata dapat menggunakan kata yang lebih ekspresif. Hal itu dijelaskan Peneliti Muda Pusltabnag KDOD Fani Heru Wismono, pada kegiatan Kelompok Budaya Kerja (KBK) dengan tema “Puisi, Media Ekspresif Untuk Mewarnai Birokrasi”.di Ruang Auditorium Puslatbang KDOD, Jum’at (26/2).

Menurut Fani, puisi dapat diartikan sebagai bentuk komunikasi. “Komunikasi ada dua yaitu komunikasi secara langsung dan komunikasi tidak langsung. Komunikasi yang disampaikan penyair pada pembacanya melalui karya puisi adalah komunikasi secara tidak langsung. Sehingga tidak keliru bila Puisi adalah juga sebagai Media Komunikasi”, ujar Fani.

“Tidak hanya itu, puisi juga dianggap sebagai unsur pembentuk budaya. Mengapa? Karena beberapa penyair ada yang mengkomunikasikan puisi yang berisi tentang pesan moral, agama, pendidikan, ekonomi, sosial, politik, dan sebagainya. Namun citra, rasa kehidupan yang dituangkan dalam karyanya sama-sama mencerminkan kehidupan masyarakat yang mampu mengkomunikasikan tata nilai budaya di dalamnya” tegasnya lagi.

Fani juga mengatakan bahwa melalui puisi akan membuat hati seseorang untuk bergerak. “Bagaimana puisi dikaitkan dengan birokrasi? Birokrasi dapat dilihat dari dua sisi yaitu subyek dan obyek. Jika birokrasi adalah subyek yang membuat regulasi, menyelenggarakan pelayanan, menjalankan sistem untuk mempermudah masyarakat mencari dan mendapatkan penghidupan yang layak maka saat itulah Birokrasi akan dianggap sebagai obyek”, pungkas Fani.

Scroll Up