Widyaiswara Harus Sesuaikan Metode Pembelajaran dengan Perkembangan Teknologi

Jakarta -  Widyaiswara harus melakukan sejumlah terobosan dalam menggunakan metode dan pendekatan pembelajaran kepada peserta didik. Di tengah era baru yang penuh dengan tantangan, kecepatan, karakteristik digitalisasi ekonomi, hi-tech, big data, artificial intelegent serta revolusi industri 4.0  sudah seharusnya metode pembelajaran yang selama ini digunakan dalam pendidikan dan pelatihan aparatur harus disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Kepala Lembaga Administrasi Negara, Dr. Adi Suryanto, M.Si mengatakan, pendekatan pembelajaran dengan pola klasikal sudah tidak mampu lagi mengakomodasi kebutuhan peserta didik sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman.  

“Saat ini kita dihadapkan pada generasi yang sedang bertumbuh sesuai dengan masanya. Ada generasi baby boomers, generasi X, generasi Y, hingga generasi milenial. Mereka yang dilahirkan sesuai dengan momentum masanya itu memiliki karakter, talenta dan keahlian yang berbeda. Tentu pendekatan yang kita gunakan dalam memberikan materi pendidikan dan pelatihan ke setiap generasi ini berbeda,” kata dia saat memberikan sambutan dalam acara “Orasi Ilmiah dan Pengukuhan Widyaiswara Ahli Utama”, di Auditorium Prof. Dr. Agus Dwiyanto, MPA, Rabu (28/3).

Apalagi, lanjut Kepala LAN, ASN jaman sekarang yang lebih populer disebut dengan ASN jaman now memiliki karakter yang sangat up to date terhadap perkembangan teknologi dan informasi.

Menurut Kepala LAN, dengan karater ASN jaman now yang demikian, Widyaiswara harus mampu menyampaikan proses pembelajaran dengan cara yang tidak membosankan. Bahkan dengan mengadaptasi teknologi dan informasi agar ASN jaman now merasa dicerdaskan dalam pembelajaran.

“ASN jaman now yang sudah direkrut dengan susah payah dan dengan cara yang sangat baik ini harus bertambah pintar dan berdaya guna. Jangan justru sebaliknya bertambah bodoh karena widyaiswaranya kurang up date dan inovatif dalam menyampaikan materi pembelajaran,” jelasnya.

Menurut dia, banyak sekali metode dan pendekatan pembelajaran yang bisa digunakan. Metode klasikal dalam proses pelatihan juga harus disesuikan.

“Mana yang harus disesuaikan dan mana yang bisa dimodifikasi. Untuk membangun team work dan kolaborasi kita butuh kebersamaan, butuh kelas. Tetapi kalau sifatnya kompetensi teknis tertentu, dia bisa belajar sendiri, penyampaiannya bisa dengan cara non klasikal seperti pembelajaran jarak jauh, online dan sebagainya,” jelasnya.

Pendekatan teknologi dan Informasi

Sementara itu menanggapi perkembangan teknologi dan informasi yang kian massif di era revolusi industri 4.0, Lembaga Administrasi Negara saat ini tengah melakukan pembenahan di semua sektor, khususnya dalam proses pembelajaran dan penjenjangan widyaiswara.

“LAN saat ini telah mengambil kebijakan terutama untuk lingkup pelatihan yang berada di LAN seperti Training of Trainer, Training of Facilitator, Training of Coach, diklat penjenjangan widyaiswara yang akan ditransform ke dalam proses e-learning,” jelas Kepala LAN.

Menurut Kepala LAN, dengan adanya perubahan kebijakan ini maka Diklat Penjenjangan Widyaiswara yang tadinya memakan waktu satu bulan di kelas tidak lagi akan dilakukan.

“Cukup 2-3 hari Bapak Ibu datang ke LAN untuk mengikuti uji kompetensi. Untuk pembelajarannya serahkan ke masing-masing peserta. Tugas LAN menyiapkan bahan, materi, model coaching-nya, model mentoringnya, uji kompetensinya. Kita siapkan tutorial online, kita siapkan TV Diklat online, sehingga siapapun bisa mengakses,” jelasnya. (alamsyah/rima/budiprayitno)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Last modified on Rabu, 04 April 2018 07:11