Widyaiswara Harus Kembangkan Metode Pembelajaran Inovatif Featured

Jakarta - Era Revolusi Industri 4.0 adalah masa penuh kompleksitas yang diwarnai dengan tingkat kompetisi antar negara yang semakin  ketat. Semua negara harus meningkatkan kualitas layanan dan birokrasinya agar mampu bersaing secara global.

“Pilihan pemerintah untuk mewujudkan birokrasi berkelas dunia sangat penting. Dan birokrasi berkelas dunia tidak akan bisa diwujudkan tanpa ASN yang berkelas dunia pula,” kata Kepala Lembaga Administrasi Negara Dr. Adi Suryanto, M.Si saat menyampaikan pidato pada penutupan “Orasi Ilmiah dan Pengukuhan Widyaiswara,” di Aula Prof. Dr. Agus Dwiyanto, MPA, Kantor LAN Veteran, Kamis (27/9).

Adi Suryanto mengatakan, program pengembangan kompetensi menjadi kunci terwujudnya ASN berkelas dunia. Widyaiswara sebagai tenaga pengajar diklat memiliki peran strategis dalam pengembangan kompetensi ASN.

“Dengan berbagai kemajuan saat ini, Widyaiswara harus mengembangkan pemikiran, terobosan, dan inovasi baru dalam cara serta metode pengembangan kompetensi di luar diklat,” kata dia.

Menurut dia, LAN sebagai lembaga yang bertanggung jawab menjaga kualitas lembaga diklat sejauh ini terus berkomitmen menghasilkan ASN berkelas dunia. Hal ini dilakukan melalui cara modernisasi diklat klasikal dengan mengimplementasikan teknologi terkini serta memperbaiki proses seleksi rekrutmen dan pembinaan Widyaiswara.

“Dengan adanya proses inpassing jabatan, mendorong banyak orang ingin menjadi Widyaiswara. Untuk itu, kita perlu mengembangkan cara baru dalam menyeleksi para calon Widyaiswara,” katanya.

Dalam proses seleksi baru ini, lanjut dia, seorang calon Widyaiswara harus menjalani pra ujian dengan materi mengenai subtansi kebijakan kediklatan, manajemen kediklatan, pengetahuan kediklatan, dan bahasa Inggris.

“Hanya mereka yang lolos tahap pra ujian dapat melanjutkan ke tahap ujian kompetensi,” jelasnya.

Dalam diklat penjenjangan yang dulu sepenuhnya berisifat klasikal di kelas, jelas Kepala LAN, saat ini sudah mulai diterapkan metode e-learning. Penghitungan angka kredit bagi Widyaiswara pun juga tidak lagi menitikberatkan pada jam pembelajaran namun ikut mempertimbangkan peran serta Widyaiswara dalam pengembangan bahan ajar.

“Mudah-mudahan dengan cara ini kita akan mampu meningkatkan kualitas Widyaiswara ke depan. Setiap perubahan memang memiliki risiko. Namun, kini kita dihadapkan pada tuntutan baru, tantangan baru dalam hal bagaimana mengembangkan peran fungsi Widyaiswara agar selaras dengan perkembangan metode pembelajaran modern,” jelasnya. (Ima/Budi Prayitno)