Tantangan Globalisasi Menuntut SDM Profesional Featured

Jakarta – Sumber daya manusia aparatur birokrasi harus terus berbenah menghadapi era globalisasi agar tidak kalah dalam persaingan. Pasalnya, era globalisasi yang sedang menuju pada tahapan megatrend arus globalisasi 2.0 membuat semua negara saling berlomba mengejar ketertinggalannya.

“Megatrend menuju globalisasi tahun 2030 saat ini sudah mulai bergerak dengan sangat cepat. Hal ini ditandai dengan beberapa hal seperti masuknya pengaruh modernisasi dari dunia barat ke dunia timur,” jelas Kepala Pusat Pembinaan Analis Kebijakan Lembaga Administrasi Negara Dra. Erna Irawati, M.Pol Admin saat upacara Pembukaan Diklat Kepemimpinan Tingkat IV Angkatan XI, di Graha Makarti Bhakti Nagari, Kampus PPLPN LAN Pejompongan, Selasa (25/7).

Menurut Erna, indikasi lain yang menandai derasnya arus globalisasi adalah era digital atau digitalisasi dihampir semua sektor kehidupan. Perkembangan teknologi digital saat ini membuat setiap orang terkoneksi dengan hal apapun yang terjadi bahkan tanpa diminta.

“Saat ini setiap orang selalu terkoneksi satu dengan yang lainnya. Banyak sekali platform media sosial yang memberikan informasi setiap detiknya hanya agar orang lain tahu. Trend digitalisasi ini membuat semua aspek pelayanan publik kian dimudahkan. Dampaknya, sumber daya manusia kian lama kian tidak dibutuhkan karena semua diarahkan ke digital dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi,” jelasnya.

Menurut dia, trend ini harus disadari setiap entitas individu di organisasi, khususnya organisasi pemerintah agar  selalu ambil bagian dalam setiap perubahan yang ada.

 “Era yang muncul pada tahap ini adalah era kompetisi. Siapa yang mampu berkompetisi dan memiliki kompetensi dialah yang akan menjadi juara dalam pertarungan tersebut,” jelasnya.

Menyadari laju gerak perubahan yang kian massive tersebut, Erna mengatakan, perlunya setiap pemimpin memiliki kemampuan kepemimpinan yang transformasional. Pemimpin harus peka terhadap kondisi eksternal maupun internal organisasi agar mampu menghadapi setiap problematika yang terjadi.

“Pemimpin transformasional juga harus mampu membangun jejaring kerja agar mudah dalam melakukan koordinasi antar lintas instansi,” tutupnya. (choky/budiprayitno)

 

 

 

Last modified on Jumat, 28 Juli 2017 05:04