Pengembangan Kompetensi PNS Tanggung Jawab Bersama Featured

Jakarta – Pengembangan kompetensi Aparatur Sipil Negara sebanyak 20 jam pelajaran per tahun sesuai UU ASN No. 5 Tahun 2014 dan Peraturan Kepala LAN No. 10 Tahun 2018 tentang Pengembangan Kompetensi ASN tidak bisa dibebankan pada organisasi semata namun ada tanggung jawab pegawai dan atasan langsung. Bahkan atasan langsung berkontribusi besar dalam pengembangan pegawai yang menjadi bawahannya.

Sekretaris Utama LAN Sri Hadiati WK mengatakan, tanggung jawab pengembangan kompetensi pegawai yang terbesar terletak di tangan atasan langsung (line manager).

“Jadi kebijakan pengembangan pegawai bukan semata-mata urusan Sekretariat atau Bagian SDM saja tetapi tanggung jawab semua pihak,” kata dia saat memberikan sambutan “Sosialisasi Peraturan Kepala LAN No. 10 Tahun 2018 tentang Pengembangan Kompetensi Pegawai Negeri Sipil” kepada seluruh pejabat pimpinan tinggi, administrator, serta pengawas di lingkungan LAN,  di Aula Prof. Dr. Agus Dwiyanto, MPA, Rabu (3/10).

Menurut dia, ada tiga pihak yang bertanggung jawab, yakni unsur organisasi yang biasanya diwakili oleh Biro, line manager atau atasan langsung yang mengetahui kemampuan langsung dari para pegawai yang ada dibawah koordinasinya, serta pegawai yang bersangkutan.

Sri Hadiati merinci, persentase tanggung jawab pengembangan pegawai yang terbesar ada di tangan line manager atau atasan langsung yang berkontribusi sebesar 60 persen. Sedangkan tanggung jawab organisasi dan individu masing-masing berkontribusi sebesar 20 persen. 

“Jadi atasan memiliki tanggung jawab yang besar dalam pengembangan kompetensi dan kapasitas anak buahnya,” jelasnya.

Menurut dia, dengan adanya kewajiban pengembangan pegawai sebanyak 20 jam pelajaran per tahun dan minimnya anggaran pengembangan, maka setiap pimpinan harus mengembangkan potensi anak buahnya melalui berbagai cara. Tidak harus melalui diklat namun bisa melalui metode pengembangan kompetensi yang lain.

“Ada banyak bentuk pengembangan kompetensi seperti belajar mandiri, bimbingan di tempat kerja, magang, serta bentuk pelatihan non klasikal lainnya,” jelasnya. (choky/budiprayitno)