Pembangunan Berkelanjutan Harus Perhatikan Daya Dukung Lingkungan

Jakarta -  Pembangunan berkelanjutan harus mengedepankan faktor lingkungan dan sumber daya di semua sektor. Pembangunan yang hanya mengedepankan kepentingan politik, ekonomi dan sosial semata akan mendestruksi makna dari pembangunan berkelanjutan itu sendiri.

Guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpad, Prof. Oekan S. Abdoellah, M.A., PhD mengatakan, isu pembangunan berkelanjutan sudah dicanangkan pemerintah Indonesia sejak lama. Namun sejauh ini upaya untuk mendorong pembangunan berkelanjutan belum menemukan hasil yang signifikan.

“Kalau kita bicara mainstreaming sustainable development, itu sudah ada di RPJMN. Tapi faktanya tidak semakin membaik. Kerusakan lingkungan malah semakin memburuk,” kata dia pada acara bedah buku Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia di Persimpangan Jalan karyanya, di Ruang Serbaguna STIA LAN Jakarta, Rabu (25/4).

Oekan menuturkan, ada beberapa masalah yang menjadi penyebab belum terimplementasinya pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Salah satunya adalah komitmen politik pemerintah yang masih parsial dan tidak terintegasi. Ia menengarai hal ini disebabkan kebijakan desentralisasi yang mengakibatkan daerah berjalan sendiri-sendiri.

Oekan menuturkan, ekonomi Indonesia saat ini masih mengandalkan sektor Sumber Daya Alam. Menurut dia, eksploitasi SDA saat ini dinilainya terlalu ekstraktif. Seolah-olah sektor ini merupakan kekayaan alam yang tidak akan habis.

“Istilah pembangunan berkelanjutan itu bukanlah barang baru. Fokus kita sekarang ini adalah bagaimana menggabungkan antara lingkungan dan pembangunan. Inilah pentingnya pembangunan berkelanjutan,” kata dia.

Deputi Bidang Kajian Kebijakan Lembaga Administrasi Negara Dr. Muhammad Taufiq, DEA mengatakan, pembangunan berkelanjutan di Indonesia harus memperhatikan aspek lingkungan dan sumber daya di semua sektor. Hal ini penting agar pembangunan yang dilaksanakan tidak hanya mementingkan aspek ekonomi dan sosial semata.

Sustainable Development Goals merupakan sebuah program dan komitmen negara-negara PBB untuk melakukan pembangunan berkelanjutan. Hanya saja ada persoalan mendasar terkait daya dukung lingkungan yang mengiringi program pembangunan  tersebut. Ini harus menjadi perhatian kita bersama, khususnya para pemangku kepentingan,” kata dia.

Taufiq mengakui saat ini pekerjaan rumah dalam bidang pembangunan berkelanjutan masih banyak. Salah satunya adalah kesenjangan yang semakin melebar. Menurut dia, harus ada kesadaran baru agar pembangunan yang berjalan memiliki wawasan yang berkelanjutan dan inklusif.

“Pembangunan dilakukan tidak hanya berlangsung selama 5, 10 sampai 25 tahun tapi bisa mencapai ratusan tahun. Pergulatan global sekarang adalah pergulatan yang sifatnya jangka panjang,” jelasnya.

Taufik menuturkan, LAN saat ini turut ambil bagian dalam memperbaiki program pembangunan berkelanjutan. Hal ini diwujudkan dengan memasukan tema lingkungan pada program Reform Leader Academy (RLA).

Menurut dia, relasi tema lingkungan dengan dunia birokrasi sangat paralel. Reformasi birokrasi yang dilakukan oleh pemerintah bagaimanapun harus mendukung cara berpikir masyarakat yang berorientasi pada lingkungan hidup. (irena/budiprayitno)

 

Last modified on Kamis, 03 Mei 2018 06:13