Manajemen Sungai Terpadu untuk Indonesia yang Lebih Bersih  

 

Jakarta -  Sebanyak 35 peserta Diklat Reform Leader Academy (RLA) Angkatan XII Lembaga Administrasi Negara berkunjung ke Kantor Staf Presiden untuk memaparkan hasil diklat tentang Manajemen Sungai Terpadu dengan mengambil contoh kasus Manajemen Sungai Citarum dan Ciliwung.

Para peserta Diklat RLA yang dipimpin Kepala Pusat Diklat Teknis dan Fungsional LAN DR. Basseng diterima langsung oleh Deputi Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu Ekologi, Sosial dan Budaya Strategis KSP Yanuar Nugroho, di Kantor Staf Presiden, Selasa (4/9). Dalam diskusi itu, para peserta RLA menawarkan program manajemen sungai dengan tema “One River One Management”.

Peserta Diklat RLA Bayu Aji memaparkan, pemilihan tema Manajemen Sungai didasari karena banyaknya sungai di Indonesia yang tercemar dengan kualitas air yang sangat buruk.

Bayu Aji mencontohkan kondisi Sungai Citarum yang saat ini dikenal sebagi sungai terkotor dengan banyak sampah. Padahal Sungai Citarum merupakan sumber air minum untuk penduduk Jakarta dan Jawa Barat.

Selain Sungai Citarum, Bayu Aji juga memaparkan kondisi Sungai Ciliwung yang terkenal dengan banjir tahunannya dan padatnya pemukiman di bantaran sungai.

“Persoalan tata kelola sungai ini tidak bisa dianggap sepele. Hampir sebagian besar masyarakat menggantungkan kehidupannya pada sungai. Terlebih lagi masyarakat menggunakan sungai untuk dijadikan sumber air minum,” jelasnya.

Menurut Bayu Aji, ada berbagai penyebab yang mengakibatkan tata kelola sungai amburadul, di antaranya disintegrasi kebijakan, belum tersedianya satu data yang valid dan akurat, kurangnya peran serta masyarakat, serta kurangnya penegakan hukum.

“Dalam konsep One River One Management, kami mengusulkan adanya satu data yang valid dan akurat sebagai dasar penyusunan kebijakan. Selain itu perlu ada satu perencanaan yang dilaksanakan oleh seluruh stakeholder terkait sesuai dengan fungsi dan kewenangannya. Hal yang tak kalah penting adalah penegakan hukum dan sinergitas antar pemangku kepentingan,” paparnya.

Deputi Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu Ekologi, Sosial dan Budaya Strategis, Yanuar Nugroho sangat mengapresiasi dan menyambut baik ide yang digagas peserta Diklat RLA dan akan mempertemukan beberapa wakil peserta dengan tim nasional untuk berdiskusi, memperbaiki dan menindaklanjuti gagasan yang disampaikan. (adi setyono/budiprayitno)