LAN Fokus Didik Calon ASN Profesional Featured

Bogor – Upaya membentuk Aparatur Sipil Negara (ASN)  yang profesional dan memiliki komitmen tinggi dalam mewujudkan pelayanan publik yang baik serta berpikir secara holistik terus dilakukan Lembaga Administrasi Negara (LAN).  Langkah konkret itu dilakukan melalui Pelatihan Dasar (Latsar) ASN yang berbeda dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Latsar ASN tahun 2018 akan difokuskan untuk melahirkan ASN yang pada akhirnya dapat mengaktualisasikan nilai-nilai ASN dalam dunia kerja nantinya. Kita menyadari masih banyak ASN yang selama ini mengedepankan ego sektoral masing-masing sehingga setiap persoalan yang muncul selalu direspon secara parsial,” jelasnya Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Dr. Adi Suryanto, M.Si saat memberikan sambutan Pembukaan Pelatihan Dasar CPNS Golongan III Angkatan I sampai dengan Angkatan VII Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, di Aula Pusdiklat Kementerian ATR/BPN, Cikeas Udik, Kabupaten Bogor, Selasa (27/2). Acara Pembukaan Latsar itu juga dihadiri Menteri Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Sofyan A. Djalil.

Menurut Kepala LAN, Latsar CPNS saat ini sudah didesain dengan menggunakan pendekatan aplikatif. Hal ini berbeda dibandingkan dengan sebelumnya dimana Diklat Pra Jabatan desain pembelajarannya bersifat klasikal karena hanya diisi dengan ceramah.

“Bukan hanya namanya yang berbeda dari Diklat Pra Jabatan menjadi Pelatihan Dasar (Latsar). Namun cara membekali Aparatur Sipil Negara (ASN) juga berubah ke arah yang substantif agar para ASN dapat mengenali tantangan yang tengah dihadapi pemerintah dan peka terhadap isu aktual yang berkembang di tengah masyarakat,” jelas dia.

Kepala LAN merinci, dalam Pelatihan Dasar (Latsar) ASN ada tiga bagian penting yang diikuti peserta, di antaranya Materi Bela Negara. Pada materi ini setiap ASN selaku entitas pelayan dan pelaksana kebijakan pemerintah harus hadir untuk melayani masyarakat dan menjadi pemersatu bangsa.

“Kita bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan & Keamanan untuk memberikan materi pembekalan yang terdiri dari Bela Negara, Anti Narkoba, Pemberantasan Korupsi, serta materi lainnya. Termasuk juga penanaman nilai-nilai dan karakter ASN yang harus dimiliki. Diharapkan, calon ASN kita mampu peka terhadap situasi kekinian baik itu secara nasional maupun global,” jelasnya.

Sementara itu, terkait dengan hal yang sifatnya teknis sesuai dengan bidang tugas dan fungsi, Kepala LAN menjelaskan bahwa hal itu akan disesuaikan dengan bidang masing-masing Kementerian/Lembaga/Daerah sesuai dengan kepentingan masing-masing.

“Lembaga Administrasi Negara pada tahapan ini telah menyiapkan metode e-learning guna pembelajaran. Nantinya modul-modul yang terkait dengan Latsar akan diupload untuk kemudian dipelajari sendiri oleh ASN. Hasil pembelajaran mereka nantinya yang akan didiskusikan dengan mentor masing-masing untuk dibuat paper setelah melewati masa orientasi,” jelasnya.

Kepala LAN menambahkan, dengan adanya perubahan pola ini maka kesempatan yang dimiliki setiap calon ASN untuk lulus dalam pendidikan dan pelatihan ini hanya satu kali. ASN diberi waktu untuk melalui masa transisi percobaan selama satu tahun untuk kemudian di evaluasi di akhir Latsar.

“Saya juga berharap Widyaisawara yang menjadi tenaga pengajar mampu mengembangkan teknik pembelajaran yang variatif sehingga pembekalan kompetensi ASN dalam Latsar dapat lebih efektif,” kata dia.

Kecerdasan Emosional

Sementara itu, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Sofyan A Djalil berharap agar calon pegawai ASN di lingkungannya untuk mengedepankan kecerdasan emosional.

“Saya yakin anda yang diterima adalah orang yang memiliki IQ tinggi. Karena dengan sistem rekrutmen yang sekarang itu adalah orang-orang pilihan. Namun untuk dapat bekerja sama secara tim, seorang ASN dengan IQ tinggi saja tidak cukup. Mereka harus memiliki kecerdasan emosional yang tinggi dengan jiwa sosial yang bagus,” kata dia.

Lebih lanjut Sofyan mengatakan, dengan sistem pendidikan yang mengedepankan IQ menyebabkan anak-anak pintar memiliki sifat yang jelek yaitu merasa diri paling pintar.

“Sehingga egoisnya tinggi sekali, look down terhadap orang lain, tidak bisa bekerja sama, sombong dan tidak mau dikritik,” kata dia.(fina/budiprayitno)

 

 

 

 

 

Last modified on Jumat, 02 Maret 2018 03:47