Kajian dan Inovasi di LAN Harus Dukung Penguatan Transformasi Organisasi Featured

Jakarta – Kajian dan Inovasi yang dirancang setiap Pusat Kajian di lingkungan Lembaga Administrasi Negara harus didasarkan pada masalah dan kebutuhan yang dihadapi organisasi. Disamping itu, kajian dan inovasi yang dilakukan antar Pusat Kajian juga harus saling menopang satu sama lain agar tidak berjalan parsial. 

Kepala Lembaga Administrasi Negara Dr. Adi Suryanto, M.Si mengatakan, kajian penelitian yang dilakukan seharusnya disesuaikan dengan tantangan strategis yang dihadapi LAN.

“Selama ini banyak sekali tema-tema kajian yang dilakukan tidak berdasarkan pada kebutuhan riil yang dihadapi organisasi. Bahkan terkesan berjalan sendiri tanpa didasari isu strategis yang jelas,” kata dia saat memberikan saran dan masukan pada acara “Konsolidasi Bidang Kajian dan Inovasi Tahun 2018”, di Lt. 8 Gedung B Kantor LAN Jakarta, Kamis (2/2). Acara konsolidasi yang berlangsung hingga tiga hari ini difokuskan pada paparan hasil kajian 2017 serta proyeksi program kerja di tahun 2018.

Menurut Kepala LAN, orientasi kajian dan penelitian seperti ini harus dirubah. Para peneliti harus berpikir kritis dengan menyesuaikan apa yang akan dikaji dengan apa yang sedang diproyeksikan Lembaga Administrasi Negara.

“Dengan melihat mandat baru yang diberikan  kepada LAN sesuai dengan UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara serta rencana restrukturisasi LAN dalam waktu dekat, para peneliti seharusnya mampu menghasilkan kajian-kajian yang akan menopang gerak laju organisasi dalam menyongsong perubahan tersebut. Bukan asyik berselancar sendiri dengan kajian yang tidak jelas kontribusinya,” tegasnya.

Hal lain yang juga dikritisi Kepala LAN terkait dengan hasil kajian yang dihasilkan sepanjang tahun 2017 adalah tidak adanya hasil kajian yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat transformasi LAN, khususnya dalam rangka pengembangan kurikulum dan desain pembelajaran diklat, model diklat jarak jauh, ataupun e-learning.

Kepala LAN juga mengingatkan bahwa kajian maupun penelitian yang dilakukan harus benar-benar didasarkan pada metode riset yang dapat dipertanggung jawabkan secara akademik dan bukan berdasarkan metode anggaran.

“Setiap akan melakukan kajian, baik itu di pusat ataupun daerah, model kajiannya harus yang bersifat terapan sehingga dapat langsung digunakan. Disamping itu, setiap ingin melakukan penelitian ke daerah-daerah, harus dilihat informasi apa yang akan didapatkan. Apabila informasi itu sudah tersedia di tingkat pusat, tidak perlu sampai turun ke daerah,” kata dia.

Dalam kesempatan itu, Kepala LAN juga mengingatkan seluruh Pusat di lingkup Kedeputian Inovasi agar lebih kreatif dalam menyusun program kerja dalam bentuk laboratorium inovasi.

“Semua pusat menyelenggarakan laboratorium inovasi. Padahal nomenklaturnya berbeda. Ini harus menjadi perhatian bersama agar tidak terjadi duplikasi program,” tegasnya. (choky/budiprayitno)

Last modified on Selasa, 06 Februari 2018 04:38