Inovasi Butuh Proses Panjang dan Kepekaan Featured

Jakarta - Membangun inovasi membutuhkan proses yang panjang dan kepekaan. Proses yang panjang dan kepekaan itu menjadi hal yang penting dalam mengidentifikasi perubahan apa saja yang akan menjadi nilai tambah.

Hal ini disampaikan Vikra Ijas, Co-founder kitabisa.com saat berbagi pengalaman di acara Deputi Inovasi Administrasi Negara (DIAN) Sharing, di Ruang Kelas A, Gedung A LAN Jakarta, Jumat (25/5).

Vikra menuturkan, awal mula dirinya merintis kitabisa.com didasari adanya keinginan untuk mengembangkan konsep gotong royong secara daring dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi. Tujuannya agar kegiatan penggalangan dana yang bertujuan sosial dapat menyentuh masyarakat yang lebih luas.

Berbagai tantangan dan kegagalan telah dihadapi oleh tim kitabisa.com. Namun, nilai-nilai seperti “be curious, be courageous dan be compassion” yang senantiasa kita terapkan dan internalisasikan mampu membuat kitabisa.com bertahan hingga sekarang,” jelas dia.

Vikra mengatakan, dalam tahap inovasi, setiap pihak harus berani untuk mencoba setiap eksperimen. Meskipun menemui kegagalan, setidaknya kita akan belajar dari kegagalan tersebut.

 “Eksperimen itu penting daripada kita bermain dengan asumsi. Karena ternyata asumsi itu membunuh kreatifitas. Kenapa kita harus saling berdebat antar tim untuk menentukan mana (konsep) yang akan kita ambil? Kenapa ga dicoba semuanya aja? Kuncinya adalah eksperimen, eksperimen, eksperimen. Meskipun hasilnya gagal, kita tidak akan pernah betul-betul gagal selama terus belajar dari kegagalan itu,” kata Dia

Vikra mengungkapkan bahwa idealisme tidak bisa hanya menjadi satu-satunya modal dasar ketika membangun. Kepekaan dalam mengidentifikasi nilai tambah apa yang akan diberikan serta sasaran pelayanan yang akan diberikan harus terlebih dulu ditentukan di awal.

“Pelajaran yang paling besar ketika membangun kitabisa.com adalah bahwa idealisme ternyata tidak cukup. Siapa yang akan kita layani dan nilai tambah apa yang akan kita berikan ternyata harus jelas,” kata Dia.

Deputi Bidang Inovasi, Dr. Tri Widodo mengatakan, internalisasi nilai merupakan hal yang sangat penting ketika membangun inovasi. Sayangnya internaliasi nilai ini yang hilang di sektor publik.

”kitabisa.com didorong oleh sebuah nilai yang diperjuangkan. Ini yang hilang dari sektor publik. Bahkan tidak ada nilainya sama sekali. Mereka bekerja bukan karena nilai yang tertanam, tetapi mengerjakan sesuatu hanya demi memenuhi tuntutan SOP. Ketika sudah punya value, harus jelas siapa yang akan menerima value tersebut. Pemerintah sering gagal paham. Dengan seperti itu kita bisa berbuat sesuatu yang konkrit,” kata dia. (irena/budiprayitno)