Disruptive Teknologi, Revolusi Industri 4.0, dan Daya Saing Merupakan Tantangan Birokrasi Indonesia Featured

Jakarta - Lembaga Administrasi Negara kembali menyelenggarakan Training of Facilitator (TOF) Pengembangan Kompetensi Pegawai ASN Angkatan Pertama Tahun 2018. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan kompetensi ASN ke depan sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah No 11 Tahun 2007 dan Peraturan LAN No 5 tahun 2018.

“Diklat ini merupakan angkatan pertama yang diharapkan setelah selesai mengikuti TOF peserta dapat menjelaskan landasan program pengembangan kompetensi ASN, termasuk di dalamnya bagaimana mencari gap antara standar kompetensi dengan kompetensi yang dimiliki oleh para pegawai ASN,” kata Plh. Kepala LAN, Dr. Muhammad Taufiq, DEA saat memberikan sambutan dihadapan 60 peserta TOF Pengembangan Kompetensi Pegawai ASN, di Gedung Makarti Bhkati Nagari, PPLPN Pejompongan, Selasa (20/3)

Selain itu, Taufiq mengharapkan para peserta TOF juga mampu melakukan transfer knowledge yang didapatkan kepada peserta pengembangan kompetensi ASN yang akan diselenggarakan di seluruh Indonesia.

“Peserta diklat ini nantinya akan dididik sebagai tenaga pengajar pada workshop pengembangan kompetensi ASN yang akan dilaksanakan ke depan,” ungkapnya.

Tantangan Birokrasi Indonesia

Dr. Muhamad Taufik, DEA dalam sambutannya juga mengingatkan bahwa birokrasi Indonesia menghadapi berbagai tantangan dan harus siap untuk mensikapi perubahan tersebut. Salah satu tantangan yang muncul diantaranya adalah prospek ekonomi Indonesia yang diramalkan akan menjadi negara terbesar keempat di dunia pada tahun 2050, revolusi industri 4.0, dan daya saing Indonesia.

“Di luar sana sering kita mendengar adanya disruptive, yaitu perubahan-perubahan yang sangat fundamental terkait dengan cara kerja organisasi, terutama di swasta. Birokrasi tentu saja tidak bisa mengambil jarak dan menjadi penonton, tapi kita adalah bagian dari proses perubahan tersebut, bahkan harus ada di depan proses perubahan itu. Bapak Ibu sekalian dipersiapkan sebagai ujung tombak dalam perubahan tadi, menjadi pemimpin revolusi tadi,” tegasnya.

Terkait dengan prospek ekonomi Indonesia yang diramalkan akan menjadi negara terbesar keempat di dunia pada tahun 2050, lanjut dia, Presiden selalu menyampaikan bahwa Indonesia telah menjadi bagian dari G20. Hanya ada 20 negara dari hampir 200 negara di dunia yang menguasai ekonomi dunia. Kita sekarang di posisi 17, harapannya pada tahun 2050 Indonesia di posisi no 4 terbesar di dunia.

Isu lain yang cukup krusial, menurut Taufiq adalah Revolusi Industri 4.0. Indonesia dan seluruh dunia saat ini sedang dihadapkan pada kehadiran Revolusi Industri 4.0. Semua negara menyiapkan strategi nasional menghadapi ini karena Revolusi Industri 4.0 dipastikan akan mengubah cara kerja organisasi.

“Implikasi yang nyata dengan kehadiran Revolusi Industri 4.0 di dunia kerja adalah terpengaruhnya 65 persen profesi dengan kehadiran revolusi industri jenis baru tersebut. Sekarang sudah banyak sekali profesi yang hilang. Di Singapura, di bank-bank teller sudah mulai hilang, agen asuransi hilang, dunia pendidikan juga sudah mulai menurun, sales sudah hilang dan seterusnya. Birokrasi selama ini belum tersentuh, karena selama ini kita diatur dengan undang-undang tersendiri, tetapi suatu keniscayaan pasti akan berubah,” jelasnya.

Menurut Taufiq, saat ini posisi daya saing Indonesia berada di posisi 36 dari 137 negara, daya saing inovasi Indonesia berada pada urutan 87 dari 127 negara. Jika tidak bisa membenahi diri dan merespon tuntutan digital economy dan tantangan lainnya, maka proyeksi Indonesia menjadi negara nomor empat di dunia tadi tidak akan tercapai.

“Pada posisi ini kita butuh upaya serius untuk merespon tantangan tersebut. Salah satu kuncinya adalah dengan memperbaiki memperbaiki kualitas aparatur. Daya tarik investasi semakin bagus di Indonesia, tetapi ganjalannya adalah di birokasi. Dalam laporan global efektiveness, inefisiensi birokrasi ini menjadi ancaman nomor dua setelah korupsi,” jelasnya.

Dr. Muhamad Taufik, DEA dalam sambutannya juga menyatakan terdapat berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan kompetensi aparatur. Pertama, kita masih sering gagap dalam melakukan pengembangan aparatur. Selama ini proses pembelajaran masih asik dengan pengetahuan yang ada selama ini, pada tugas dan fungsinya masing-masing, belum melihat perkembangan dan tantangan yang muncul di luar. Kedua, cara pembelajaran masih sangat konvensional. Kita belum mengarah pada ASN sebagai human capital. Ketiga, pembelajarannya masih bersifat individual. Tidak ada kaitannya dengan kebutuhan dan strategi organisasi.  

Untuk menjadi great organization, kita harus menyiapkan great people. Oleh karenanya, diperlukan pengembangan kompetensi yang menggunakan cara yang smart, untuk  menghasilkan ASN yang smart.

Kompetensi ASN terdiri atas kompetensi manajerial, sosio kultural dan teknis. Setiap instansi harus menyusun kebutuhan pengembangan kompetensi, selama satu tahun anggaran dan harus berkelanjutan per lima tahun. Pengembangan dilakukan instansional dan nasional.

Pengembangan kompetensi harus dilakukan secara terkoordinir, karena pengembangan kompetensi ini harus mendukung strategi nasional. LAN diberi tanggungjawab mengkoordinasikan pengembangan kompetensi tersebut.

“Untuk menghasilkan SDM yang bagus kita melakukan rekrutmen yang sangat kompetitif. SDM sebagai aset yang direkrut dengan baik, dikembangkan dengan baik dan dipelihara. Jangan lupa ada konsep budaya. Pengembangan kompetensi ini harus ikut serta mendukung transformasi budaya organisasi, lebih berintegritas dan lainnya.”imbuhnya.

Sesuai dengan PP 11 tahun 2017, bahwa pengembangan kompetensi manajerial, sosio kultural dilaksanakan secara nasional dikoordinir oleh LAN, untuk membangun ASN sebagai perekat bangsa. Pengembangan kompetensi teknisnya oleh masing-masing instansi.

Tantangan ke depan, kita akan melakukan perubahan yang sangat fundamental dalam pengembangan kompetensi ASN. Dan ini merupakan hal yang sangat strategis dan vital untuk menjaga keberlangsungan birokrasi, keberlangsungan bangsa. Kita dihadapkan pada persaingan yang sangat besar, dan kuncinya ada pada ASN. (rima/choky/budiprayitno)

Last modified on Jumat, 23 Maret 2018 10:05