Kerjasama dengan Singapura, LAN Dorong Birokrasi Responsif Dengan Perubahan Di Era Revolusi Industri 4.0

Presiden Joko Widodo berulang kali mengatakan bahwa bukan negara besar yang akan mengalahkan negara kecil, atau negara yang kaya sumber daya alam akan mengalahkan negara yang miskin sumber daya alam, tetapi negara yang cepat akan mengalahkan negara yang lambat. Perubahan terus terjadi, teknologi terus berkembang. Perubahan tidak memiliki kemampuan untuk menunggu mereka yang lambat beradaptasi pada perubahan itu sendiri. Artificial Intelegent, big data, otomatisasi – sebagai penanda Revolusi Industri 4.0 – merupakan hal yang sudah akrab dalam kehidupan sehari-hari saat ini. Hal tersebut diungkapkan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Dr. Adi Suryanto, M.Si pada pembukaan Pembukaan RISING Fellowship Programme di Kementrian Luar Negeri Singapura, Senin (18/11).

 “Di satu sisi, tentu segala perkembangan teknologi, otomatisasi memudahkan aktivitas kita sehari-hari, bahkan dapat meningkatkan produktivitas usaha dengan biaya yang lebih efisien. Di sisi yang lain, kita masih tetap memperhatikan kuantitas sumber daya manusia yang kita miliki. Kita harus benar-benar memperhatikan bahwa sumber daya manusia di Kabupaten/ Kota/ Provinsi di Indonesia siap mengalami shifting dari industri konvensional menuju industri yang berbasis digital dan otomatisasi.” ungkap Adi Suryanto.

 Singapura menjadi salah satu negara tujuan benchmarking yang baik dalam merespon Revolusi Industri 4.0. Karena berdasarkan hasil, ‘Readiness for the Future of Production Report’ yang dilakukan oleh World Economic Forum (WEF), Singapura adalah satu di antara 25 negara teratas yang mendapatkan keuntungan dari perubahan natur produksi yang di-drive  oleh Industry 4.0.

 “Ekosistem industry yang kuat dan dukungan pemerintah mentransformasi Singapura menjadi digital manufacturing hub dimana ide inovatif dan baru yang sebelumnya adalah barang mewah menjadi massif. Oleh karena itu, banyak best practices yang dapat kita pelajari dari Singapura.”  tambah Kepala LAN.

 Dalam merespon Industri 4.0 tentu perlu kesiapan dari birokrasi juga. Birokrasi harus meninggalkan business as usual agar dapat mendukung Industry 4.0. Birokrasi harus bergerak cepat mengikuti perkembangan. Lembaga Administrasi Negara terus mendorong birokrasi agar responsif dengan perubahan yang terjadi di era IR 4.0 ini, baik melalui pengembangan kompetensi para ASN dan juga mendorong ASN untuk menghasilkan inovasi-inovasi berbasis teknologi dalam pelayanan publik, tata kelola pemerintahan, maupun pemberdayaan masyarakat. “Saya yakin bahwa di daerah yang Bapak/ Ibu pimpin juga  melakukan upaya terbaik  dalam merespon IR 4.0 ini” tutup Kepala LAN.

 Pada kesempatan yang sama Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura, Mr. Chan Chun Sing menyampaikan bahwa RISING (Republic Of Indonesia And Singapore) Fellowship Programme (RFP) ini merupakan satu milestone dalam hubungan bilateral antara Indonesia dan Singapura. Kerjasama antara Indonesia dan Singapura sudah berjalan dalam berbagai bidang seperti, pertahanan, ekonomi, pendidikan, pariwisata dan budaya. Hubungan antara Singapura dan Indonesia bukan hanya pada level pemimpin saja. Para pemimpin hanya bisa melakukan apa yang mampu mereka lakukan karena sangat banyak interaksi yang dilakukan pada sektor pelayanan publik dan pertahanan. Dalam sektor ekonomi, Indonesia dan Singapura juga melakukan banyak kerjasama. Baru-baru ini kerjasama Kendal Industrial Park. Pada tahun 1990-an, Indonesia- dalam hal ini Batam dan Bintan- dan Singapura menjalin kerjasama untuk membangun Kepulauan Riau.

 “Ada banyak tantangan yang bisa dipecahkan dengan bekerjasama. Indonesia adalah negara yang berkembang dengan cepat. Pasti membutuhkan solusi untuk permasalahan-permasalahan di perkotaan, seperti power generation, manajemen air, manajemen sampah, kesehatan, transportasi, dan pendidikan. Singapura sangat senang apabila bisa bekerjasama untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Kerjasama dalam pembangunan industrial park, Singapura tidak membangun industrial park yang terisolasi. Singapura membangun lembaga pelatihan dan program pelatihan untuk membantu pekerja Indonesia bekerja di Industrial Park tersebut.” tambah Mr. Chan Chun Sing.

Kegiatan RFP ini merupakan komitmen bersama antara Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Menteri Lee Hsien Loong sebagai bagian dari kerjasama Indonesia dan Singapura. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Civil Service College dan pembiayaan berasal dari Kementrian Luar Negeri Singapura dan Temasek Foundation Connect. Adapun tema pada kegiatan RFP ini adalah Industry 4.0 Transformation and Investment Promotion” dan dilaksanakan pada tanggal 18-21 November 2019. Hadir sebagai peserta RFP yaitu Gubernur Riau, Gubernur Sumatera Barat, Wakil Gubernur Jawa Timur, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Walikota Batam, Walikota Jambi, Walikota Bogor, dan Bupati Belitung. (humas)Mustofa

Last modified on Senin, 06 Januari 2020 22:48