KE JEPANG, PESERTA PKN TINGKAT I BELAJAR AGILE BUREAUCRACY & SOCIETY 5.0

Tokyo – Sebanyak 34 orang Peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan XLIII, sejak tanggal 27 s.d. 31 Agustus 2019 mempelajari bagaimana membangun agile bureaucracy melalui kegiatan benchmarking ke beberapa lokus di Jepang, yaitu National Graduate Institute Policy Studies (GRIPS); Ministry of Health, Labour and Welfare; dan Ministry of Finance.

Pemilihan Jepang sebagai lokus kegiatan benchmarking kali ini didasari alasan pertama, karena Jepang merupakan salah satu negara dengan perekonomian terbaik di dunia yang menempati posisi tertinggi ketiga dalam perolehan Gross Domestic Product (GDP). Kedua, Jepang merupakan lahan subur tempat munculnya berbagai inovasi tingkat dunia. Saat ini, Jepang merupakan peringkat ke-13 dalam Global Innovation Index. Ketiga, saat ini pemerintah Jepang telah memperkenalkan Society 5.0 yang berfokus pada aplikasi teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga alasan tersebut membuktikan bahwa Jepang telah berhasil menerapkan agile bureaucracy secara efektif. Oleh karenanya, pemilihan lokus ini sejalan dengan tema yang diusung dalam PKN Tingkat I Angkatan XLIII, yaitu Developing Agile Bureaucracy to Improve National Competitiveness.

Kepala LAN dalam sambutannya menyatakan bahwa melalui kegiatan benchmarking ini peserta PKN I diharapkan dapat mengidentifikasi best practices kebijakan yang diterapkan pada lokus yang dikunjungi, menyusun lesson learnt, mengadopsi best practices, dan mengadaptasi best practices dalam rangka perbaikan atau perubahan yang akan dilakukan oleh peserta di instansinya masing-masing.

Kegiatan Benchmarking ini diawali dengan melakukan kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo yang diterima oleh Wakil Duta Besar RI. Selanjutnya, Peserta PKN Tingkat I melakukan kunjungan ke National Graduate Institute Policy Studies (GRIPS), Ministry of Health, Labour and Welfare dan Ministry of Finance. Selain melakukan kunjungan ke berbagai lokus, dalam benchmarking ini, peserta juga diajak untuk melakukan observasi sosiokultural masyarakat Jepang, dan menggelar forum diskusi terkait substansi materi yang sedang dipelajari. (Humas)