News

Jakarta - Dalam masa pandemi Covid-19, birokrasi dituntut untuk terus berkinerja melakukan pelayanan prima terhadap masyarakat. Untuk itu, beberapa langkah inovatif perlu dilakukan seorang pemimpin agar dapat beradaptasi menuju tatanan kenormalan baru (new normal). Hal ini diungkapkan Deputi Bidang Penyelenggaraan Kompetensi ASN Lembaga Administrasi Negara (LAN), Dr. Basseng, M.Ed saat membuka Web Expo Festival Inovasi Peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan XLIV LAN tahun 2020 di Auditorium Prof Agus Dwiyanto, MPA, Kantor LAN, Jln. Veteran, Jakarta, Senin (7/7).

“Disinilah pemimpin memiliki fungsi strategis untuk melakukan terobosan-terobosan baru, menemukan gagasan-gagasan baru yang inovatif serta mampu beradaptasi dengan lingkungan yang terus menerus berubah setiap saat” tambah Basseng.

Basseng juga menyampaikan, kegiatan Web Expo Festival Inovasi merupakan ajang pembuktian bagi peserta PKN I untuk menjadi pemimpin yang inovatif dan membawa perubahan nyata di sektor publik. Selain itu, kegiatan ini juga membuktikan bahwa di tengah pandemi Covid-19 ini, ASN tetap berkinerja dan mampu menciptakan ide dan gagasan baru.

“Di tengah krisis saat ini, kita membutuhkan pemimpin sebagai agen perubahan yang membiasakan diri membawa kultur inovasi di instansinya masing-masing. Adanya kebiasaan untuk membangun pola pikir dan budaya kerja yang inovatif, hal itu setidaknya menjadi langkah awal bagi seluruh ASN untuk menggerakkan gerbong reformasi birokrasi yang saat ini terus bergulir” jelasnya.

Tidak hanya itu, menurut Basseng, kemampuan komunikasi yang efektif juga mutlak dimiliki oleh seorang pemimpin perubahan. Hal ini berkaitan dengan cara seorang pemimpin mampu menyampaikan gagasan proyek perubahannya kepada stakeholders, sehingga secara bersama-sama dapat tercapai tujuan yang diinginkan.

“Saya yakin inovasi yang telah digagas para peserta ini dapat meningkatkan pelayanan publik di Indonesia. Apalagi jika proyek perubahan ini bisa diaplikasikan dan dikembangkan oleh instansi-instansi lain tentu manfaatnya akan bertambah” tambahnya.

Basseng berharap inovasi yang lahir dari para pemimpin perubahan dapat memicu pertumbuhan inovasi lain di instansi asal peserta. Selain menjadi ajang promosi inovasi, kegiatan Web Expo Festival Inovasi tersebut juga menjadi arena pembelajaran bagi peserta.

“Para calon pemangku jabatan pimpinan tinggi madya diharapkan tidak hanya mampu melahirkan inovasi, tetapi juga dituntut mampu memimpin penerapan inovasi tersebut,” tutupnya

Kegiatan Web Expo Festival Inovasi dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan bagi para peserta yang hadir Tidak hanya itu, masyarakat juga dapat menyaksikan secara langsung inovasi-inovasi yang digagas peserta PKN tingkat I ini melalui fasilitas youtube dan zoom meeting. Dalam kesempatan ini ditayangkan 40 video pendek yang berisikan proyek perubahan para peserta PKN Tingkat I Angkatan XLIV Tahun 2020.

Jakarta – Widyaiswara merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pengembangan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia. Mengemban tugas tersebut, widyaiswara memiliki peran strategis sebagai motor dalam menentukan kualitas dan profesionalitas ASN. Hal tersebut diungkapkan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN), Dr. Adi Suryanto, M.Si pada acara “Orasi Ilmiah dan Pengukuhan Widyaiswara Ahli Utama”, di Auditorium Prof. Dr. Agus Dwiyanto, MPA, Kantor LAN, Jalan Veteran Jakarta Pusat, Kamis (2/7).

"Diharapkan setelah dikukuhkan menjadi Widyaiswara Ahli Utama, tidak hanya berhenti pada tangga tertinggi, namun justru meningkatkan komitmen dan rasa tanggung jawab yang semakin besar untuk memberikan contoh dan menjadi panutan bagi widyaiswara lainnya," tambah Adi..

Lebih lanjut, Adi menyampaikan bahwa LAN saat ini sedang mengembangkan platform ASN Unggul yang menampung seluruh bentuk pelatihan yang berlangsung di berbagai lini, mulai dari proses pembelajaran, sharing pengetahuan, dan uji kompetensi yang dapat diakses melalui platform tersebut. Hal tersebut menuntut para widyaiswara untuk tidak hanya berkutat dalam lingkup kelas ajar, melainkan harus mengembangkan metode pembelajaran yang beyond limit, dengan mengubah mindset dan tata kelola untuk meningkatkan kualitas pengajaran widyaiswara.

“Saat ini kita dihadapkan pada beragam generasi yang ada di dalam organisasi, mulai dari generasi baby boomers, generasi X, generasi Y, hingga generasi milenial yang banyak mendominasi. Oleh karenanya, para widyaiswara harus mampu beradaptasi dengan situasi ini, dengan selalu meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam metode pembelajaran berbasis media yang beragam,” tutupnya.

Pada kesempatan tersebut, terdapat 10 widyaiswara yang melakukan Orasi Ilmiah dan dikukuhkan sebagai Widyaiswara Ahli Utama. Adapun kesepuluh widyaiswara tersebut adalah:

  1. Drs. H. Rusdjiman Soemaatmadja, M.Si - BPSDMD Provinsi Banten
  2. Dr. H. Suhardjo, M.Si - BPSDMD Provinsi Kalimantan Selatan
  3. Dr. Hj. Wiwin Winarni, M.M.Pd - Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Sukabumi
  4. Ir. Moch. Toha Khuseno, M.Si - Balai Pelatihan Teknis Pertanian, Dinas Pertanian Daerah Provinsi Sulawesi Utara
  5. Dr. Sopan Adrianto, S.E., M.M., M.Pd. - BPSDM Provinsi DKI Jakarta
  6. Dr. Drs. H. Endjang Naffandy, M.Si., M.H. - BPSDM Provinsi Jawa Barat
  7. Ir. H. Baharuddin, MM - BPSDM Provinsi Sulawesi Selatan
  8. Dr. Ir. Syahrin Daulay, M.Eng.Sc. - BPSDM Provinsi Kalimantan Tengah
  9. Dra. Nelly Nurmelly, M.M. - Balai Diklat Keagamaan Palembang
  10. Drs. H.M. Samir Patsan, M.Ag. - Balai Diklat Keagamaan Makassar

Jakarta - Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat yang berbasis kepada potensi desa akan memiliki dampak bagi peningkatan perekonomian apabila fasilitasi yang dilakukan dikelola dengan baik dan dilaksanakan berkelanjutan. Namun sayangnya fasilitasi yang dilakukan oleh pemerintah (pusat maupun daerah) terkadang masih bersifat parsial. Tidak jarang Kementerian/Lembaga serta Pemerintah Daerah melakukan fasilitasi yang sama di satu tempat, sehingga  terjadi pengulangan. Berdasarkan hal tersebut Lembaga Administrasi Negara (LAN) berinisiatif membuat inovasi Village Preneurship yang bertujuan membangun kolaborasi antar stakeholders dalam pengembangan dan pemberdayaan masyarakat desa serta mendorong kreativitas masyarakat. Hal tersebut disampaikan Kepala LAN, Dr. Adi Suryanto, M.Si. saat presentasi pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Tahun 2020 Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) untuk menuju Top 45 secara virtual di hadapan Tim Panel Independen, Kamis (2/7).

“Inovasi ini merupakan upaya dalam rangka mengikis ego sektoral sebagaimana mandat atau arahan Presiden Joko Widodo bahwa kita tidak boleh lagi mengedepankan ego institusi dan ego daerah untuk melakukan kerja tim secara bersama-sama”, tambah Adi Suryanto.

Adi Suryanto juga menyampaikan, LAN telah melakukan fasilitasi di dua desa di Kabupaten Purwakarta untuk melakukan village preneurship dengan menggunakan tiga pendekatan yaitu: Idea, Product, dan Market (IPM). Kita tidak bisa mengembangkan produk kalau tidak memiliki ide yang cocok dan tidak bisa melakukan marketing kalau tidak punya produk. Untuk itu maka, IPM ini merupakan tahapan penting bagi dalam men-deliver proses inovasi di Kabupaten Purwakarta.

“Desa Pesanggrahan dan Desa Sukamulya adalah dua desa yang unik, karena bukan desa yang berstatus mandiri, tetapi bukan yang berstatus tertinggal juga. Dalam kegiatan ini yang paling penting adalah bagaimana  membangun komitmen  Pemerintah Kabupaten Purwakarta dengan beberapa stakeholder di Pemerintah Pusat dan juga kawan-kawan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang bisa memfasilitasi untuk bersama-sama bergerak. Selain itu, LAN juga melakukan pendekatan secara langsung kepada para aparat Desa tersebut, ajak berbicara dari hati ke hati. Hasilnya kami mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat sehingga pelan-pelan kami mencoba merubah mindset mereka bahwa apapun yang kita mimpikan dapat terwujud jika disertai dengan kemauan kuat. Secara singkat, langkah pertama yang kami lakukan adalah memetakan potensi desa, mengusulkan ide usaha dan juga merencanakan usaha. Selanjutnya yang kedua kami selenggarakan workshop untuk mengembangkan produk-produk unggulan tadi. Kami mengajak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementerian Pariwisata, Dinas Pariwisata Kabupaten Purwakarta, dan narasumber dari Yogyakarta untuk sharing pengetahuan dan pengalaman suksesnya”, ungkap Adi Suryanto.

Lebih lanjut, Adi Suryanto mengatakan, pada tahap ketiga kegiatan ini LAN memberikan pelatihan untuk memasarkan produk mereka mulai dari packaging, branding, dan menjual produk mereka, baik melalui media sosial BUMDES, e-commerce, maupun marketplace. Selanjutnya, evaluasi dilakukan untuk mengetahui dampak kegiatan tersebut. Salah satu contohnya adalah olahan gula yang diolah menjadi gula semut dapat dijual dengan harga Rp. 40.000 yang sebelumnya hanya dapat dijual dengan harga Rp. 18.000. Hal ini merupakan nilai tambah yang luar biasa bagi masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan potensi dan peluang lapangan pekerjaan bagi para ibu rumah tangga, pemuda desa, dan komponen masyarakat lainnya.  Yang paling penting selanjutnya adalah bagaimana inovasi ini telah menumbuhkan jiwa wirausaha baru. Banyak usaha-usaha baru yang muncul dengan mereplikasi cara-cara kami dalam mengembangkan usaha. Bahkan dari Deputi Jasa Ilmiah LIPI, Tanoto Foundation, dan ASTRA sudah memberikan komitmen untuk bergabung dalam program ini.

“Peran LAN adalah bagaimana membangun mindset masyarakat dan mengkolaborasikan kompetensi-kompetensi yang tersebar di banyak institusi melalui pendekatan inovasi kolaboratif ini. Kita percaya dengan semangat kebersamaan dan gotong royong kita bisa bersatu membangun Desa, tutup Adi Suryanto.

Pada kesempatan tersebut salah satu tim panel independen Prof. Dr. Siti Zuhro, M.A. yang peneliti senior Pusat Penelitian Politik LIPI menyampaikan dukungannya atas inovasi yang dilakukan oleh LAN. Karena nantinya inovasi ini bisa membangun smart ekonomi di desa. 

“Saya setuju ada gerakan membangun Indonesia dari desa, jadi kalau LAN bisa membumikan itu sangat luar biasa. Bukan secara fisik, tetapi nuansa kolaboratif dan sinergis antara stakeholders, masyarakat dan juga pemerintah desa itu yang ditonjolkan. Nantinya untuk membangun masyarakat unggul level desa perlu dibangun roadmapnya, untuk bisa nanti digerakkan ke seluruh Indonesia.” ungkap Siti Zuhro

 

Sebagai tambahan informasi, dari 2250 proposal inovasi yang lolos seleksi administrasi, inovasi Village Preneurship "Sinergi Antar Stakeholders dalam Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa" yang digagas Pusat Inovasi Administrasi Negara LAN terpilih menjadi Top 99 Inovasi Pelayanan Publik pada KIPP Tahun 2020. Acara ini turut dihadiri oleh Deputi Bidang Kajian dan Inovasi Administrasi Negara LAN, Dr. Tri Widodo, MA, Sekretaris Utama LAN, Dra. Reni Suzana, MPPM., dan Kepala Pusat Inovasi Administrasi Negara Dra. Isti Heriani, MBA.(humas)

Jakarta - Di tengah era disrupsi teknologi, pelatihan untuk meningkatkan kompetensi literasi digital bagi para Widyaiswara sangat diperlukan untuk mengimbangi kemajuan teknologi yang begitu pesat. Dengan memanfaatkan teknologi yang ada, maka diharapkan dapat menjadi ‘jembatan’ bagi para Widyaiswara dan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia dalam mendapatkan akses informasi dan bahan pengajaran yang berkualitas, sehingga diharapkan akan tercipta ASN yang unggul dan profesional. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional Bidang Pengembangan Kompetensi ASN Lembaga Administrasi Negara (LAN), Dr. Muhammad Aswad, M.Si. saat membuka Community of Practice (CoP) Widyaiswara Edisi Ketiga yang bertema “Langsung Praktik Bikin Video dalam 15 Menit”, dengan fasilitas video conference, Senin (29/6).

“Widyaiswara haruslah memiliki kemampuan yang mumpuni serta harus update dengan teknologi yang terkini. Dengan demikian, Widyaiswara akan dapat bersaing secara global dan menjadi pilar kemajuan bangsa, terutama dalam memajukan ASN di seluruh Indonesia,” tambah Aswad.

Lebih lanjut, Aswad menjelaskan bahwa saat ini LAN memfasilitasi penerbitan regulasi terkait CoP dan pembangunan sistem yang akan menjadi sarana bagi para Widyaiswara untuk saling belajar. Pembangunan sistem yang bernama Rumah Cerdas Widyaiswara Indonesia (RCWI) tersebut saat ini telah mencapai 75% dan rencananya akan diluncurkan pada akhir tahun 2020.

“Sebagai instansi pembina Widyaiswara, LAN ingin membudayakan interaksi antar instansi pembina, Widyaiswara dan ASN yang berjalan terus-menerus. Diharapkan dengan adanya transfer knowledge yang dilaksanakan secara berkala melalui sistem tersebut, maka akan tercipta Widyaiswara yang semakin berkualitas,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Widyaiswara Indonesia (DPP IWI), Dr. Budiarso Teguh Widodo, ME, menyatakan bahwa pembangunan RCWI sejalan dengan gagasan dan program kerja DPP IWI, yakni pengembangan ruang belajar dari, oleh, dan untuk Widyaiswara serta menjadi ruang komunikasi antara Widyaiswara dengan ASN. 

“Kunci kesuksesan RCWI tergantung pada komitmen dan keaktifan Widyaiswara dalam memproduksi konten. Konten yang ada pada RCWI harus secara berkala dikembangkan dalam berbagai lini kompetensi, baik kompetensi teknis, kompetensi manajerial maupun kompetensi sosial kultural,” tambahnya.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional Bidang Pengembangan Kompetensi Pegawai ASN ini merupakan forum ketiga setelah forum pertama yang diselenggarakan pada tanggal 8 Mei 2020 dan forum kedua yang diselenggarakan pada tanggal 15 Juni 2020 lalu. Kegiatan yang dimoderatori oleh Ir. M. Maliki Moersid, MCP., (Wakil Ketua DPP IWI) ini dihadiri oleh 264 Widyaiswara dari seluruh Indonesia. (humas)

Jakarta - Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi ranah teknologi dan sistem pemerintahan dan menjadikan negara-negara di seluruh dunia, melaksanakan penyesuaian untuk mewujudkan kualitas pejabat publik yang lebih adaptif melalui pemanfaatan teknologi agar dapat menciptakan pelayanan publik yang optimal, efisien, dan efektif. Hal tersebut, menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam mewujudkan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang profesional. Kondisi saat ini, lebih dari 1,6 juta  ASN hanya memiliki kemampuan  sebatas administrasi. Kondisi demikian dapat mengurangi percepatan reformasi birokrasi yang saat ini tengah berjalan. Hal tersebut diungkapkan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumulo, SH pada Rapat Koordinasi Pengembangan Kompetensi ASN yang mengambil tema “Kebijakan Pengembangan Kompetensi ASN di Era New Normal” yang dilaksanakan secara virtual, Selasa (30/6)

“Jadi saya tekankan pentingnya pengembangan kompetensi ASN untuk mewujudkan visi Presiden Jokowi terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong. Dalam visi tersebut, pengembangan ASN menjadi salah satu prioritas kerja 5 tahun ke depan. Presiden menginginkan SDM aparatur yang bekerja keras, melayani masyarakat, dinamis, terampil serta memiliki kemampuan dalam  penguasaan IPTEK, hal ini menjadi dasar untuk mewujudkan ASN berkelas dunia pada tahun 2024” ungkapnya.

Tjahjo juga menyampaikan, Lembaga Administrasi Negara (LAN) harus memiliki strategi untuk membangun pola pikir ASN yang komprehensif integral, memiliki integritas yang tinggi, profesional dan melayani. Terlebih di tengah situasi krisis pandemi covid-19, pola pelatihan yang diselenggarakan harus tetap memperhatikan protokol kesehatan.

“Dalam forum Rakornas ini, kita harus memunculkan ide, gagasan dan terobosan baru. ASN harus lebih produktif dengan menerapkan protokol kesehatan. Strategi baru adalah dengan menerapkan protokol Kesehatan. Kunci ke depan: meningkatkan profesionalisme, peningkatan skill teknologi informasi, taat kebijakan pemerintah pusah dan daerah.” tutupnya.

Sejalan dengan itu, Kepala LAN, Dr. Adi Suryanto, M.Si dalam sambutannya menjelaskan bahwa LAN telah mengambil langkah-langkah strategis dalam percepatan pengembangan kompetensi ASN terutama di masa pandemi Covid-19.Salah satu yang dikembangkan di LAN adalah melalui pendekatan flexible learning yaitu pembelajaran dilakukan lebih lentur, fleksibel, dapat dilakukan kapan saja dan oleh siapa saja. Flexible learning digunakan oleh LAN sebagai strategi pengembangan kompetensi yang menfaatkan TIK baik synchronous maupun asynchronous.

“Lembaga pelatihan dapat mengembangkan TIK nya. Masa pandemi mengajarkan kita untuk bekerja dan belajar secara gesit (agile), dimana saja dan kapan saja. Memasuki New Normal, metode distance learning akan terus dikembangkan dengan memberikan opsi yang lebih fleksibel kepada lembaga pelatihan untuk menyelenggarakan pelatihan secara jarak jauh baik online ataupun offline.” ungka Adi

Sementara itu, Deputi Bidang Kebijakan Pengembangan Kompetensi ASN, Dr. Muhammad Taufiq, DEA menyampaikan beberapa metode pengembangan kompetensi dalam kondisi new normal. Beberapa metode tersebut antara lain fulltime online, distance learning online dan offline, micro mobile learning, working place learning dan juga corporate university. Untuk mendukung beberapa metode tersebut dibutuhkan kesiapan fasilitator widyaiswara dana juga kesiapan dari lembaga pelatihan tersebut.

“Kami telah mengeluarkan kebijakan, maka para WI perlu dibekali, misalnya ada Community of Practive untuk WI saling share dan beradaptasai dengan situasi yang ada. Karena virtual ini sangat beda dengan klasikal. Selain itu, kesiapan lembaga pelatihan seperti masalah internet atau device untuk komunikasi perlu disiapkan dengan lebih baik lagi.” tambah Taufiq

Sejalan dengan itu Kepala Pusat Pembinaan Program dan Kebijakan Pengembangan Kompetensi ASN LAN, Erna Irawati, S.Sos., M.Pol.Adm menyampaikan secara garis besar sudah banyak kebijakan untuk mendukung pelaksanaan pengembangan kompetensi pada masa pandemi. Sejauh ini, distance learning adalah yang paling aman dan banyak digunakan, nantinya kalau memang daerah lembaga pelatihan sudah hijau maka fleksibel bagi lembaga pelatihan tersebut untuk menyelenggarakan pelatihan secara normal seperti sebelumnya. Fleksibel diberikan sepenuhnya untuk tataran kebijakan ini. (humas)